Rabu, 22 April 2009

LINGKUNGAN BERBAHASA (BI'AH LUGHAWIYYAH)

PENCIPTAAN LINGKUNGAN BERBAHASA (BÎ’AH LUGHAWIYYAH) ‎DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB
Oleh : Muktafi (NIM : 06.2.00.1.13.08.0047)‎
A.‎ Pendahuluan
Pola pikir sentralistik, monolitik, dan uniformistik mewarnai ‎pengemasan dunia pendidikan kita. Keputusan selalu dilaksanakan ‎berdasarkan hierarkhi-birokrasi. Kita lupa bahwa indikator keberhasilan ‎pendidikan adalah bahwa anak didik kita sejahtera. Anak didik kita sejahtera ‎jika aktivitas belajar menyenangkan dan menggairahkan. Ada kecenderungan ‎dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa ‎anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah. Belajar ‎akan lebih bermakna jika anak “mengalami” sendiri apa yang dialaminya, ‎bukan “mengetahui” -nya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan ‎materi terbukti berhasil dari kompetensi “mengingat” jangka pendek, tetapi ‎gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka ‎panjang, pendekatan kontekstual (contextual teaching abd learning/CTL) ‎adalah suatu pendekatan pengajaran yang dari karakteristiknya memenuhi ‎harapan itu.‎
Nurhadi, dkk. (2004)‎ ‎ menyebutkan 7 prinsip penerapan pembelajaran ‎Kontekstual , yaitu : 1). Merencanakan pembelajaran sesuai dengan kewajaran ‎perkembangan mental siswa (developmentally appropriate), 2). Membentuk ‎kelompok belajar yang saling tergantung (dependent learning group), 3). ‎Menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri (self ‎regulated learning), 4). Mempertimbangkan keragaman siswa (disversity of ‎student), 5). Memperhatikan multi-intelegensi siswa (multple intelligences), 6). ‎Menggunakan teknik-teknik bertanya (Questioning), dan 7). Menerapkan ‎penilaian autentik (authentic assessment) ‎
Perkembangan kemampuan berbahasa seseorang dipengaruhi antara ‎lain oleh lingkungan. Hasil penelitian menyebutkan bahwa anak yang tinggal ‎di lingkungan ekonomi yang mapan akan lebih cepat, lebih teliti dan lebih ‎kuat berbahasa dibandingkan dengan mereka yang tumbuh di lingkungan ‎sosial ekonomi rendah.‎ ‎ Arti pentingnya lingkungan berbahasa dalam ‎pembentukan kemampuan berbahasa ini telah disadari oleh bangsa Arab sejak ‎dulu, sehingga mereka mengirim anak-anak mereka ke bâdiyah ‎ ‎ untuk ‎memperoleh bahasa yang baik, meskipun orang tua mereka sendiri juga ‎berbicara dengan bahasa Arab.‎ ‎ ‎
Abdul Wahid Wafi menyatakan bahwa bahasa bukanlah produk ‎individu secara personal, melainkan produk social secara komunal, dimana ‎setiap individu tumbuh dan menyerap aturan kebahasaan dalam komunitasnya ‎dengan cara belajar (ta’allum) atau meniru (muhâkah).‎ ‎ Oleh karena hal inilah ‎penciptaan lingkungan berbahasa yang baik dan benar akan sangat ‎berpengaruh terhadap kemampuan berbahasa seseorang. ‎
Memperkuat pendapat ini, Abdul Chaer menyatakan bahwa ‎keberhasilan belajar, termasuk didalamnya belajar bahasa, disamping ‎ditentukan oleh sejumlah variabel yakni 1) murid, 2) guru, 3) bahan pelajaran ‎dan 4) tujuan pengajaran, ia juga dipengaruhi oleh lingkungan belajar yang ‎baik. Murid yang berasal dari lingkungan keluarga yang baik, belajar di ‎lingkungan sekolah yang baik, guru yang bertanggung jawab akan memberi ‎hasil yang lebih baik daripada lingkungan sekolah yang kurang baik.‎
Bahasa diperoleh manusia melalui dua cara yaitu 1) akuisisi bahasa ‎‎(iktisâb al lughah/language acquisition) yaitu yang biasa terjadi pada anak-‎anak ketika memperoleh kemampuan berbahasa pertamanya atau bahasa ibu ‎dari lingkungannya. Kemampuan ini diperolehnya secara bawah sadar dengan ‎cara berkomunikasi langsung dengan orang-orang yang menggunakan bahasa ‎tersebut, 2) pembelajaran bahasa (language learning/ta’allum al lughah) yaitu ‎kemampuan berbahasa yang diperoleh dari proses-proses yang terjadi pada ‎waktu seseorang mempelajari bahasa kedua yang dilakukannya dengan sadar, ‎setelah ia memperoleh bahasa pertamanya.‎ ‎ Krashen (1976) dalam Fu’ad ‎Efendi, menyatakan bahwa semua wacana bahasa yang kita peroleh adalah ‎hasil dari akuisisi. Adapun sistem bahasa yang kita kuasai melalui belajar akan ‎berfungsi sebagai “monitor” yang dalam keadaan tertentu akan mengoreksi, ‎menyunting dan memperbaiki apa yang kita miliki dari akuisisi.‎ ‎ ‎
Dengan demikian, bî’ah lughawiyyah ada dua macam, yaitu ‎ligkungan formal, yakni yang ada dalam situasi belajar bahasa, dan lingkungan ‎informal, yakni yang ada dalam situasi pemerolehan bahasa. Kedua bi’ah ‎lughawiyah ini mempunyai andil yang berbeda dalam mempengaruhi ‎kemampuan berbahasa. Lingkungan informal memberikan masukan bagi ‎perolehan bahasa, sedangkan lingkungan formal menyediakan perangkat ‎untuk monitor apa yang telah diperoleh.‎
Teori diatas dapat menjelaskan fenomena mengapa pesantren yang ‎memberi kesempatan kepada santrinya untuk terlibat langsung menggunakan ‎bahasa Arab, cenderung lebih lancar berbicara daripada santri yang hanya ‎berkonsentrasi pada pendalaman nahwu-sharf di dalam kelas.‎
Proses belajar, dimaknai sebagai perubahan sikap dan tingkah laku ‎seseorang yang diperoleh akibat interaksinya dengan lingkungannya dalam ‎berbagai jenis sumber baik orang (people) atau bukan orang (message). Ini ‎berarti bahwa guru bukanlah satu-satunya sumber belajar, walaupun tugas, ‎peran dan fungsinya sangat penting. Pembelajar dapat memperoleh ‎pengetahuan dari lingkungan yang telah di-setting sebagai sumber belajar. ‎Misalnya dari bahan-bahan yang telah disiapkan atau dari lingkungan kelas, ‎kantor sekolah, perpustakaan, laboratorium, asrama, halaman sekolah dan lain-‎lain.‎ ‎ Teori belajar seperti ini mengarahkan bentuk pembelajaran yang terpusat ‎pada siswa atau yang dikenal dengan student centered.‎
Uraian diatas menjelaskan kepada kita arti pentingnya pembentukan ‎bî’ah lughawiyah dan peranan media dalam meningkatkan kemampuan ‎berbahasa pembelajar. Dalam makalah ini akan diuraikan beberapa hal yaitu 1) ‎bagaimana lingkungan berbahasa itu harus dibuat, 2) media apa saja yang ‎dapat dimanfaatkan untuk membentuk lingkungan berbahasa yang baik.‎
B.‎ Konsep Lingkungan Bahasa
Lingkungan bahasa adalah segala sesuatu yang didengar dan dilihat ‎oleh pembelajar berkaitan dengan bahasa target yang sedang dipelajari.‎ ‎ ‎Sebagaimana yang diusulkan oleh Krashen, ada dua jenis lingkungan ‎berbahasa yaitu lingkungan formal dan lingkungan informal.‎ ‎ ‎
Lingkungan formal, mencakup berbagai aspek pendidikan formal dan ‎non formal, dan sebagian besar berada dalam kelas atau laboratorium. ‎Lingkungan formal ini dapat memberikan masukan kepada pembelajar berupa ‎pemerolehan wacana bahasa (keterampilan berbahasa) ataupun sistem bahasa ‎‎(pengetahuan unsur-unsur bahasa), tergantung kepada bagaimana tipe ‎pembelajaran atau metode yang digunakan oleh guru. Namun secara umum ‎terdapat kecenderungan bahwa lingkungan formal memberikan pengetahuan ‎tentang sistem bahasa lebih banyak dibandingkan wacana bahasa.‎
Adapun lingkungan informal, ia memberi perolehan wacana bahasa ‎secara alamiah dan sebagian besar terjadi di luar kelas. Bentuk perolehan ‎wacana ini bisa berupa bahasa yang digunakan oleh guru, siswa, kepala ‎sekolah, karyawan dan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan sekolah serta ‎lingkungan alam atau buatan yang berada di sekitar sekolah. ‎
Dari keterangan diatas yang penting bagi kita adalah, bagaimana ‎memberdayakan kedua bî’ah lughawiyah tersebut dalam upaya mendukung ‎tercapainya kompetensi berbahasa oleh para pembelajar. Artinya semua pihak ‎yang terkait dengan kedua lingkungan tersebut harus memahami peran dan ‎fungsinya masing-masing.‎
C.‎ Lingkungan sebagai Subsistem Pembelajaran ‎
Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi dan menentukan ‎keberhasilan proses pembelajaran adalah lingkungan (environment, bî’ah), tak ‎terkecuali lingkungan berbahasa. Keberadaan lingkungan berbahasa Arab ‎menjadi sangat penting karena ia selalu hadir, melingkupi, memberi nuansa ‎dan konteks pembelajaran bahasa Arab itu sendiri. Jika lingkungan tempat ‎pembelajaran bahasa Arab itu kondusif, niscaya proses pembelajaran juga ‎berlangsung kondusif. Sedemikian pentingnya lingkungan pembelajaran itu, ‎sehingga Nabi Muhammad saw. mengillustrasikan bahwa lingkungan keluarga ‎itu dapat merubah keyakinan dan agama seorang anak yang dibesarkan dalam ‎lingkungan itu. Sabda Nabi saw.: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan ‎fitrah. Kedua orang tuanyalah (lingkungan keluarga) yang kemudian ‎menjadikan anak itu beragama Yahudi, Nashrani, atau Majusi…” (HR ‎Muslim).‎
Menurut hasil penelitian Ahmad ibn Abd al-Rahmân al-Sâmirra'î, tingkat ‎pencapaian pengetahuan melalui indera penglihatan mencapai 75%, sementara ‎melalui indera pendengaran hanya 13%. Sedangkan melalui indera lain, seperti ‎pengecapan, sentuhan, penciuman, pengetahuan hanya dapat diperoleh ‎sebesar 12%. Lingkungan pembelajaran yang dilengkapi dengan gambar-‎gambar memberikan dampak 3 (tiga) kali lebih kuat dan mendalam daripada ‎kata-kata (ceramah). Sementara jika gambar dan kata-kata dipadukan, maka ‎dampaknya enam kali lebih kuat daripada kata-kata saja.‎ ‎ Karena itu, ‎lingkungan pendidikan yang berbahasa Arab diyakini memainkan peran ‎penting dalam menunjang efektivitas pembelajaran bahasa Arab di lembaga ‎pendidikan. Lingkungan berbahasa Arab tidak hanya dapat menjadi sumber ‎dan motivasi belajar, melainkan juga menjadi aset dan kebanggaan lembaga ‎pendidikan itu sendiri dalam menunjukkan citra positif dan keunggulan ‎kualitasnya. ‎
Beberapa penelitian yang lain juga menunjukkan bahwa terdapat ‎hubungan yang signifikan ('alâqah dâllah) antara lingkungan bahasa dan ‎kemampuan berbahasa kedua. Carol, Upshur, dan Mason meneliti sejumlah ‎mahasiswa asing di Amerika Serikat yang mengikuti kuliah tambahan bahasa ‎Inggris dan yang tidak mengikuti kuliah tambahan. Ternyata pada akhir ‎semester, kemampuan berbahasa Inggris kedua kelompok mahasiswa itu ‎hampir sama. Penelitian Krashen juga membuktikan bahwa lingkungan formal ‎dan informal mempengaruhi kemampuan berbahasa asing dalam cara yang ‎berbeda. Lingkungan informal memberikan masukan bagi pemerolehan bahasa ‎‎(iktisâb al-lughah, language acquisition), sedangkan lingkungan formal ‎memberikan masukan bagi monitor (menyunting dan memperbaiki wacana ‎kebahasaan yang telah dimiliki melalui pemerolehan). Akan tetapi, kontak ‎dengan suatu bahasa dalam lingkungan informal tidak menjamin ‎kemampuannya dalam berbahasa itu bertambah, kecuali kalau mahasiswa ‎terlibat dalam penggunaan bahasa itu. ‎
Dalam konteks itu, perlu ditegaskan bahwa tujuan utama penciptaaan ‎lingkungan berbahasa Arab, tentu, bukan untuk mereduksi "nasionalisme" ‎sebagai warga bangsa, melainkan menumbuhkan tradisi positif dalam belajar ‎bahasa Arab aktif. Tujuan penciptaan lingkungan berbahasa Arab, tidak lain, ‎adalah: (1) untuk membiasakan dan membisakan sivitas akademika dalam ‎memanfaatkan bahasa Arab secara komunikatif, melalui praktik percakapan ‎‎(muhâdatsah), diskusi (munâqasyah), seminar (nadwah), ceramah ‎‎(muhâdlarah), dan berekspresi melalui tulisan (ta'bîr tahrîrî); (2) memberikan ‎penguatan (reinforcement) pemerolehan bahasa Arab yang sudah dipelajari ‎dalam kelas, sehingga para mahasiswa lebih memiliki kesempatan untuk ‎mempraktikkan bahasa Arab; dan (3) menumbuhkan kreativitas dan aktivitas ‎berbahasa Arab yang terpadu antara teori dan praktik dalam suasana informal ‎yang santai dan menyenangkan.‎ ‎ Singkatnya, tujuan utama penciptaan ‎lingkungan berbahasa Arab adalah meningkatkan kemampuan dan ‎keterampilan mahasiswa, dosen, dan lainnya dalam berbahasa Arab secara ‎aktif, baik lisan maupun tulisan, sehingga proses pembelajaran bahasa Arab di ‎kampus ini menjadi lebih dinamis, efektif dan bermakna.‎
D.‎ Prasyarat dan Prinsip-prinsip Pengembangan Lingkungan Berbahasa ‎Arab ‎
Diyakini bahwa menciptakan lingkungan berbahasa Arab yang ‎kondusif tidak mudah. Karena itu, ada beberapa prasyarat yang harus ‎dipenuhi terlebih dahulu. Pertama, adanya sikap dan apresiasi positif terhadap ‎bahasa Arab dari pihak-pihak terkait, yaitu: semua civitas madrasah mulai dari ‎guru sampai karyawan . Sikap dan apresiasi positif mempunyai implikasi yang ‎besar terhadap pembinaan dan pengembangan keterampilan berbahasa. Dari ‎sikap dan apresiasi positif inilah akan tumbuh motivasi dan "rasa butuh" yang ‎tinggi. Dalam konteks ini, Douglas menjelaskan bahwa motivasi tersebut akan ‎melahirkan: (a) rasa butuh untuk menemukan sesuatu "di balik gunung", (b) ‎rasa butuh berbuat dalam lingkungan kondusif dan melakukan perubahan, (c) ‎rasa butuh untuk beraktivitas (praktik berbahasa), (d) rasa butuh untuk ‎menggerakkan orang lain agar bergiat dalam berbahasa, (e) rasa butuh untuk ‎mengetahui dan memecahkan persoalan, dan (f) rasa butuh untuk aktualisasi ‎diri dan adaptasi terhadap lingkungan berbahasa.‎ ‎ ‎
Kedua, adanya "aturan main" atau pedoman yang jelas mengenai ‎format dan model pengembangan lingkungan bahasa Arab yang dikehendaki ‎oleh madrasah. "Aturan main" ini menjadi sangat penting untuk "mengikat ‎komitmen" dan menyatukan visi dan tekad bersama untuk mengembangkan ‎lingkungan berbahasa Arab. Sedapat mungkin aturan main itu dapat ‎disosialisasikan sejak mahasiswa baru mulai menginjakkan kaki di kampus ini ‎agar mereka mempunyai sikap dan apresiasi yang positif terhadap bahasa ‎Arab. Jika dipandang perlu, dalam aturan itu juga dibentuk semacam ‎‎"mahkamah al-lughah" yang berfungsi sebagai pemantau, pengawas ‎kedisiplinan berbahasa Arab, sekaligus pemutus dan pengekskusi "hukuman-‎hukuman tertentu" bagi pelanggar kesepakatan bersama. ‎
Ketiga, adanya beberapa figur yang mampu berkomunikasi dengan ‎bahasa Arab aktif. Keberadaan dosen native speaker (nâthiq bi al-lughah al-‎‎'Arabiyyah) tampaknya harus dioptimalkan fungsi dan perannya dalam ‎mewarnai pembinaan dan pengembangan keterampilan bahasa Arab. Figur-‎figur itu merupakan penggerak utama dan tim kreatif dalam mendinamisasi ‎penciptaan lingkungan berbahasa Arab. ‎
Keempat, penyediaan alokasi dana yang memadai, baik untuk ‎pengadaan sarana dan prasarana yang mendukung maupun untuk ‎memberikan "insentif" bagi para penggerak dan tim kreatif penciptaan ‎lingkungan berbahasa Arab. ‎
Adapun prinsip-prinsip penciptaan lingkungan berbahasa Arab yang ‎perlu dijadikan sebagai landasan pengembangan sistem pembelajaran ‎bahasa Arab adalah sebagai berikut. Pertama, prinsip keterpaduan dengan ‎visi, misi dan orientasi pem¬belajaran bahasa Arab. Penciptaan lingkungan ‎berbahasa Arab harus diletakkan dalam kerangka mendukung pencapaian ‎tujuan pembelajaran bahasa Arab dan pemenuhan suasana yang kondusif ‎bagi pendayagunaan bahasa Arab secara aktif.‎
Kedua, prinsip skala prioritas dan gradasi program. Implementasi ‎penciptaan lingkungan berbahasa Arab harus dilakukan secara bertahap ‎dengan memperhatikan skala prioritas tertentu. Misalnya, ketika warga ‎madrasah saling bertemu, diharapkan masing-masing bisa bertegu sapa: ‎dengan mengucapkan ahlan wa sahlan, shabâh al-khair, kaifa haluk, ‎mâdza tadrus al-yaum, ila al-liqâ', dsb. ‎
Ketiga, kebersamaan dan partisipasi aktif semua pihak. ‎Kebersamaan dalam berbahasa asing, secara psikologis dapat memberikan ‎nuansa yang kondusif dalam berbahasa, sehingga mahasiswa yang tidak ‎bisa berkomunikasi akan merasa malu, kemudian berusaha untuk bisa dan ‎menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Secara psikolinguistik, ‎lingkungan pergaulan dalam berbahasa berpengaruh cukup signifi¬kan ‎dalam pembentukan kesadaran berbahasa asing.‎
Keempat, prinsip konsistensi dan keberlanjutan. Yang paling sulit ‎dalam penciptaan lingkungan berbahasa adalah sikap konsisten (istiqâmah) ‎dari komunitas bahasa itu sendiri. Karena itu, diperlukan adanya sebuah ‎sistem yang memungkinkan satu sama saling mengontrol dan ‎membudayakan penggunaan bahasa Arab secara aktif. Boleh jadi, ‎penciptaan lingkungan dimaksud mengalami kejenuhan. Oleh sebab itu, ‎diperlukan adanya program berkelanjutan yang bersifat varitif dan kreatif ‎dalam menciptakan suasana yang kondusif.‎
Kelima, prinsip pendayagunaan teknologi dan multi-media. Di ‎antara yang dapat membuat lingkungan berbahasa Arab adalah teknologi ‎informasi dan pendayagunaan multi-media. Keberadaan TV yang dapat ‎memancarkan siaran dari Timur Tengah perlu dioptimalkan ‎penggunaannya. Dipandang perlu juga semua civitas madrasah diberikan ‎akses untuk menggunakan internet, terutama yang berbasis di negara-‎negara Arab, agar kita dapat memperoleh –dan meng-update—informasi ‎aktual mengenai bahasa Arab, dan pada gilirannya, kita dapat ‎memperkenalkan kosa kata-kosa kata baru untuk konsumsi warga civitas ‎madrasah
E.‎ Menciptakan Lingkungan Bahasa Arab Formal
Agar lingkungan formal dapat memberi masukan pemerolehan wacana ‎bahasa dan bukan sedekar sistem bahasa, maka guru dan murid harus bekerja ‎sama dalam memanfaatkan media yang ada dalam ruang kelas. Guru, ‎pertama-tama harus merancang sumber daya yang ada dalam kelas untuk ‎dijadikan media dalam memperkaya wacana siswa. Untuk itu perlu ada ‎klasifikasi dan kalkulasi sumber apa saja yang ada di dalam kelas.‎
Lazimnya, sebuah kelas terdapat benda-benda berikut: 1) papan tulis ‎dan perlengkapannya, 2) papan absensi, 3) daftar hadir, 4) jurnal guru, 5) ‎lemari buku dengan buku-buku atau majalah, 6) bendera, 7) taman kelas, 8) ‎denah kelas atau jadwal kebersihan kelas, 9) gambar-gambar peraga (termasuk ‎peta), 10) lauhat al ibtikar (papan kreasi siswa) , 11) gambar-gambar pahlawan, ‎‎12) kalender akademik dan almanac, 13) perangkat pengeras suara (ampliflaier ‎dan tape recorder), 14) perangkat komputer dan lcd proyektor (untuk kelas ‎multi media) dan lain-lain.‎
Dari daftar sumber daya yang dipaparkan diatas, kita dapat melihat ‎bahwa sebagian besar adalah bersifat visual kecuali perangkat komputer. Oleh ‎karena itu yang harus diupayakan oleh guru adalah bagaimana merancang dan ‎menjadikan sumber-sumber daya tersebut dengan mengoptimalkan ‎penggunaannya. Berikut ini, penulis usulkan beberapa hal yang dapat ‎dilakukan untuk mengoptimalkan masing-masing sumber tersebut berdasarkan ‎pengalaman penulis sendiri.‎
Untuk mengoptimalkan papan tulis sebagai media dalam membentuk ‎bi’ah lughawiyah adalah dengan selalu menuliskan tanggal, bulan dan tahun ‎pada pojok kiri atas papan tulis dengan menggunakan penaggalan hijriyah atau ‎masehi dengan bahasa Arab. Sedangkan pada bagian kanan atas selalu ‎dituliskan madah , maudhu’ dan mabhats atau halaman dari buku yang akan ‎dibahas, dan pada bagian tengah papan tulis selalu ditulis kalimat basmalah. ‎Kemudian agar keterangan tertulis pada papan tulis tidak membingungkan ‎siswa, kita dapat membagi papan tulis menjadi beberapa bagian dengan garis ‎vertical. Sebagai missal, kita dapat membagi papan menjadi tiga bagian, ‎dengan rincian bagian pertama berisi mufradat, bagian kedua berisi qawai’d, ‎bagian ketiga kita gunakan untuk latihan dan gambar-gambar penjelas. ‎Apabila memang diperlukan, penggunaan kapur atau spidol berwarna sangat ‎dianjurkan. ‎
Papan absensi siswa hendaknya selalu ditulis dengan bahasa arab atau ‎dengan menggunakan dua bahasa yaitu Arab dan lainnya, dan kalau ‎memungkinkan daftar absensi siswa ditulis dengan bahasa Arab. Akan tetapi ‎kalau tidak memungkingkan, maka hendaknya guru bahasa Arab mempunyai ‎absen khusus yang ditulis dengan bahasa Arab dan hendaknya siswalah yang ‎membaca dan melakukan panggilan absen untuk kawan-kawannya, sehingga ‎meraka akan terbiasa membaca format absensi dalam bahasa Arab.‎
Jurnal guru hendaknya juga dibuat dengan format berbahasa Arab. ‎Tetapi kalau tidak memungkinkan dilakukan untuk semua pelajaran, maka ‎guru bahasa Arab hendaknya memiliki jurnal khusus dengan format bahasa ‎Arab dan kita minta siswa untuk mengisikannya dengan arahan guru, sehingga ‎sekali lagi siswa terbiasa melihat dan mengisi blanko berbahasa Arab.‎
Lemari yang ada di dalam kelas hendaknya tidak hanya berisi buku-‎buku pelajaran atau referensi yang berbahasa Indonesia atau Inggris saja, ‎tetapi juga harus diisi dengan buku-buku, majalah, koran atau kemasan-‎kemasan barang yang berbahasa. Untuk mendapatkan koran-koran atau ‎majalah yang berbahasa Arab ini dapat dilakukan dengan berlangganan atau ‎dengan meminta dari kantor-kantor kedutaan dan atase negara-negara Arab. ‎Sumber-sumber media ini pada saat-saat tertentu dapat dijadikan sebagai ‎bahan untuk diskusi materi pelajaran bahasa Arab.‎
Kelas yang di-setting tidak seperti mobil (kelas-kelas tradisional) ‎biasanya memiliki denah tempat duduk siswa agar memudahkan guru ‎mengenali siswanya. Denah ini hendaknya juga dimanfaatkan untuk dijadikan ‎media dalam membentuk bi’ah lughawiyah yaitu dengan cara menuliskan ‎nama-nama siswa dengan huruf atau bahasa Arab, begitu pula dengan jadwal ‎petugas kebersihan kelas.‎
Adapun gambar peraga atau peta, hendaknya guru memberi tugas ‎kepada siswa untuk membuatnya sendiri dengan memberi label pada peta atau ‎gambar gambarnya dengan bahasa Arab. Gambar peraga yang dibuat ‎hendaknya gambar yang sederhana dan tidak terlalu menyertakan detail-detail ‎yang tidak perlu, agar memudahkan penjelasan apabila diperlukan.‎
Yang paling menarik adalah hendaknya di setiap kelas disediakan ‎papan (cukup setengah ukuran tripleks) yang dibingkai dan dilapisi dengan ‎gabus dan ditutup kain, yang akan berfungsi sebagai papan untuk ‎menempelkan hasil karya siswa yang bernuansa bahasa. Karya siswa ini dapat ‎berupa cerita pendek, cerita bergambar, teka teki, usulan perbaikan untuk guru ‎atau kelas, dan apa saja yang ingin ditulis atau digambar oleh siswa. ‎
Kalender akademik hendaknya juga dibuat dengan bahasa Arab, tapi ‎bila tidak memungkinkan, maka dapat dibuat dengan dua format yaitu Arab ‎dan lainnya, sedang almanak atau penanggalan dipilih penanggalan Arab. ‎penulisan kalender akademik dengan dua bahasa biasanya justru akan ‎memecah konsentrasi siswa, maka akan lebih bagus apabila hanya dengan ‎format Arab saja. Hal demikian karena siswa cenderung hanya akan membaca ‎yang berbahasa Indonesia karena lebih mudah, dengan demikian tujuan ‎diciptakannya bi’ah lughawiyah tidak tercapai.‎
Selanjutnya pada dinding kelas hendaknya juga ditempeli hasil karya ‎siswa yang bernuansa Arab seperti: tulisan kaligrafi, lukisan suasana timur ‎tengah, ornamen-ornamen Arab dan lain-lain.‎
Apabila terdapat perangkat pengeras suara dan tape recorder di dalam ‎kelas, maka harus dilengkapi dengan kaset-kaset berbahasa Arab dan kalau ‎bisa yang berisi rekaman dari native speaker, baik berupa pidato, hiwar, lagu ‎‎(nasyid) atau lainnya. Kaset-kaset yang berbahasa Arab saat ini tidak sulit ‎didapatkan karena sudah ada ditoko-toko buku atau di lembaga-lembaga ‎dakwah. Guru juga dapat mempersiapkan bahan ini dengan merekam siaran ‎radio berbahasa Arab lewat gelombang SW atau televisi parabola (kalau ada), ‎atau situs internet berbahasa Arab baik berupa berita, wawancara, film, ‎ceramah, atau apa saja, kemudian diperdegarkan dikelas dan dianalisis.‎
Apabila di dalam kelas juga terdapat seperangkat komputer dan lcd ‎proyektor, maka pembentukan bi’ah akan lebih mudah dilakukan. Saat ini ‎sudah banyak sekali program-program pengajaran bahasa Arab interaktif. ‎Kelebihan media ini juga dapat menghadirkan suasana Arab dengan mudah ‎misalnya dengan memutar film-film berbahasa Arab atau tayangan budaya ‎dan suasana alam Arab. Dan lebih menarik lagi apabila komputer ini ‎terhubung dengan jaringan internet, maka banyak yang dapat dilakukan oleh ‎guru.‎
Demikian uraian mengenai pembentukan bi’ah lughawiyah dalam ‎lingkungan formal. Dari uraian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa ‎benda apa saja dapat dijadikan media untuk membentuk bi’ah yang baik, akan ‎tetapi peran guru, kebijakan lembaga dan kerja sama dengan siswa memiliki ‎peran yang cukup signifikan untuk membuat usaha ini gagal atau berhasil.‎
F.‎ Menciptakan Lingkungan bahasa Arab Informal
Sebagaimana telah dijelaskan dimuka, lingkungan informal adalah ‎lingkungan di luar kelas. Bi’ah lughawiyah Arab informal yang sebenarnya ‎adalah negeri Arab itu sendiri. Diluar negeri Arab, kita tidak bisa mendapati ‎bi’ah lughawiyah seperti itu aslinya meskipun di daerah imigran Arab atau ‎kampong Arab. Akan tetapi by design kita dapat merencanakan dan membuat ‎miniature negeri Arab (Arabic Zone) dalam lingkungan informal sejauh yang ‎dapat kita kontrol. ‎
Cakupan lingkungan ini lebih luas daripada lingkungan formal, maka ‎tentu saja tidak semua sudut-sudutnya dapat dikontrol oleh guru atau sistem ‎yang dibuat. Lingkungan informal ini juga melibatkan pihak-pihak yang lebih ‎banyak, sehingga untuk membentuknya diperlukan keterlibatan dan kesadaran ‎dari pihak-pihak tersebut. Tentu saja kepala sekolah adalah sebagai pihak yang ‎paling berperan dalam mensukseskan gerakan ini, karena ia memiliki kebijakan ‎umum tentang arah, tata kerja dan sistem yang ada dalam lingkungan sekolah.‎
Untuk itulah ada prasyarat yang harus dipenuhi untuk mewujudkan ‎hal tersebut. Effendi mengusulkan paling tidak ada tiga hal yang harus ‎dipenuhi, yaitu: Adanya sikap positif terhadap Bahasa Arab dan komitmen ‎yang kuat untuk memajukan pengajaran bahasa Arab dari pihak-pihak terkait. ‎Pihak-pihak terkait tersebut adalah 1) kepala sekolah, 2) guru bahasa Arab itu ‎sendiri, 3) siswa, 4) dan lebih bagus lagi kalau seluruh unsur SDM sekolah ‎baik tenaga kependidikan maupun non kependidikan ikut mendukungnya. ‎Adanya figur dalam sekolah yang mampu berkomunikasi dengan bahasa ‎Arab, baik native atau bukan. Adanya alokasi dana yang memadai untuk ‎menyediakan sarana yang diperlukan.‎
G.‎ Strategi Pengembangan Lingkungan Berbahasa Arab
Menurut hemat penulis, untuk memudahkan dalam pembentukan bi’ah ‎lughawiyah, kita bisa membagi lingkungan sekolah menjadi beberapa space. ‎Pembagian space ini penulis dasarkan pada jenis komunitas dan jenis ‎komunikasi yang dilakukan siswa. Space-space dimaksud adalah 1) kantor, 2) ‎perpustakaan, 3), laboratorium bahasa 4) laboratorium IPA, 5) kantin sekolah, ‎‎6), masjid/mushala 7) halaman sekolah, 8) ruang work shop, 9) klinik/UKS, ‎‎10) auditorium/ruang pertemuan dan lain sebagainya. ‎
Pada uraian berikut penulis usulkan beberapa hal yang dapat dilakukan ‎untuk membentuk bi’ah lughawiyah pada space-space tersebut.‎
‎1)‎ Lingkungan Kantor
Dalam lingkungan ini semua ta’limat atau pengumuman yang ‎ditujukan kepada siswa dan guru hendaknya ditulis menggunakan bahasa ‎Arab. Ta’limat yang dimaksud adalah label “kantor”, “kepala sekolah”, “tidak ‎boleh merokok”, “loket pembayaran”, “buka”, “tutup”, “dorong pintu”, ‎‎“silahkan antri” dan lain sebagaimnya. Demikian pula dengan pengumuman, ‎tapi dengan cacatan manakala akan menyulitkan pihak yang akan menerima ‎pesan, maka dapat ditulis dengan dua bahasa, Arab dan Indonesia atau ‎Inggris. ‎
Pada loket pembayaran, disisi dalam dituliskan bentuk-bentuk/contoh-‎contoh percakapan dan atau kosa kata untuk membantu petugas loket yang ‎tidak dapat berbahasa Arab agar dapat berkomunikasi dengan siswa. Begitu ‎pula pada bagian luar loket.‎
Diruang kepala sekolah, apabila kepala sekolah tidak bias ‎berkomuikasi dengan bahasa Arab, maka dapat dibantu dengan daftar ‎percakapan seputar perijinan, tanda tangan, rapat, ungkapan-ungkapan terima ‎kasih, permintaan maaf dan lain sebagaimnya. Paling tidak ia mengharuskan ‎siswanya untuk berbicara dengan bahasa Arab jika sedang menghadap.‎
Guru-guru yang mampu berkomunikasi dengan bahasa Arab ‎diwajibkan untuk menggunakan bahasa tersebut sebagai bahasa percakapan di ‎kantor, dan mereka yang tidak bias berkomunikasi dengan bahasa Arab ‎dibuatkan daftar ungkapan-ungkapan yang sering dipakai sehari seperti ahlan ‎wa sahlan, ila al liqa’, ma’a al salamah, fi amanillah dan sebagaimnya. Daftar ‎tersebut di tempel di dinding kantor dan di-update secara berkala sesuai ‎dengan kebutuhan.‎
Apabila di kantor terdapat televisi, maka sebaiknya dihubungkan ‎dengan parabola sehingga dapat mengakses televisi dari dunia Arab dan ‎suaranya dapat dipancarkan keluar kantor dengan loud speaker pada jam-jam ‎istirahat sekolah.‎
‎2)‎ Lingkungan Perpustakaan
Dalam lingkungan perpustakaan media yang menonjol adalah media ‎pandang yang berupa buku-buku, majalah, gambar-gambar peraga dan lain-‎lain. Untuk menciptakan bi’ah lughawiyah dapat dimulai dengan ‎menggunakan papan-papan pengumunan dan label-label di perpustakaan ‎dengan menggunakan bahasa Arab. Dalam ruang perpustakaan dapat disetting ‎sebuah “Zawiyah ‘Arabiyah” (“pojok bahasa Arab”) yang berisi buku-buku, ‎majalah-majalah, koran-koran, gambar-gambar yang yang bernuansa Arab. ‎Dipojok ini semua siswa juga diwajibkan berkomunikasi dengan ‎menggunakan bahasa Arab. ‎
Pengadministrasian perpustakaan yang berkaitan dengan pinjam-‎meminjam buku-buku, mulai dari kartu anggota, daftar sirkulasi buku, daftar ‎pengunjung dan lain-lain hendaknya juga menggunakan format Arab. ‎
‎3)‎ Lingkungan Laboratorium Bahasa
Laboratorium bahasa dapat dipandang sebagai lingkungan formal ‎maupun informal. Ia akan bersifat formal manakala digunakan oleh guru ‎untuk menyampaikan pelajaran, dan bersifat informal ketika tidak sedang ‎digunakan sebagai ruang untuk menyampaikan pelajaran. Barangkali ‎lingkungan di luar kelas yang paling mudah dikontrol adalah laboratorium. ‎Dalam laboratorium juga tersedia media yang cukup untuk mendukung ‎penciptaan bi’ah lughawiyah. Media-media tersebut dapat berupa media ‎dengar (audio), media pandang (visual) atau gabungan keduanya (audio-‎visual). Di sini yang dituntut adalah keterampilan guru atau petugas ‎laboratorium dalam memanfaatkan benda-benda tersebut. ‎
‎4)‎ Laboratorium IPA
Laboratorium IPA juga dapat dimanfaatkan sebagai media dalam ‎pengajaran bahasa dan menciptakan bi’ah, meskipun ia tidak secara spesifik ‎menggambarkan suasana Arab. Akan tetapi yang perlu diingat adalah bahwa ‎suasana laboratorium IPA disemua Negara adalah relative sama, yang ‎membedakan barangkali hanya kelengkapan peralatannya. Adapun mengenai ‎prosedur dan suasana umumnya tidak jauh berbeda. Dengan demikian ia ‎dapat digunakan sebagai penunjang penciptaan suasana bahasa, misalnya ‎dengan menggunakan peralatan yang ada sebagai pengenalan organ-organ ‎tubuh manusia, atau berbagai macam larutan-larutan kimia dan sebagainya.‎

‎5)‎ Kantin Sekolah
‎ Salah satu tempat yang disukai siswa untuk berkumpul-kumpul di ‎luar kelas adalah kantin sekolah. Oleh karena itu ia dapat dimanfaatkan ‎sebagai media untuk menciptakan bi’ah lughawiyah yang berhubungan ‎dengan obrolan keseharian, ungkapan-ungkapan transaksional dalam jual beli, ‎satuan-satuan mata uang dan sebagainya. Akan tetapi kesulitannya adalah ‎bahwa kantin sekolah merupakan lokasi yang sulit dikontrol oleh guru. Oleh ‎karena itu kesadaran siswa dan petugas kantinlah yang dituntut lebih banyak ‎untuk mengoptimalkan kantin ini sebagai media pembentuk bi’ah lughawiyah. ‎
Langkah-langkah yang biasa dilakukan adalah misalnya dengan ‎membekali petugas kantin dengan mufradat dan ungkapan-ungkapan pendek ‎yang berhubungan dengan transaksi jual beli, nama-nama barang yang dijual ‎dan lain sebagainya. Ungkapan-ungkapan ini dapat ajarkan oleh guru di dalam ‎ruang kelas kepada siswa untuk dipergunakan di ruang kantin. Atau bias juga ‎dibuatkan daftar ungkapan dan ditempel di dinding kantin. Kemudian ‎apabila misalnya ada ungkapan baru yang belum diajarkan atau belum ditulis ‎akan tetapi ungkapan tersebut diperlukan, maka siswa bisa menanyakan ‎kepada guru bahasa Arab, atau mencari sendiri di buku-buku percakapan yang ‎ada.‎
‎6)‎ Masjid/mushala
Salah satu media yang efektif untuk membentuk bi’ah lughawiyah ‎adalah masjid, karena secara psikologis dan religious ia berkaitan erat dengan ‎bahasa Arab. Bagaimana tidak, karena bahasa dalam ritual agama kita adalah ‎bahasa Arab. Oleh karena itulah guru dan siswa dapat mudah larut dalam ‎suasana Arab manakala sedang berada di dalam masjid. ‎
Kegiatan yang bisa dilakukan dengan masjid sebagai media adalah ‎seperti kultum ba’da shalat jama’ah dengan menggunakan bahasa Arab baik ‎dilakukan oleh siswa maupun guru. Hal lain yang dapat dilakukan adalah ‎pengumuman-pengumuman lisan, yang biasanya disiarkan dari masjid karena ‎tersedia loud speaker, hendaknya dilakukan dengan menggunakan bahasa ‎Arab. Untuk memudahkan maksud ini, maka didekat corong mic disediakan ‎kosa kata-kosa kata atau ungkapan-ungkapan yang berhubungan dengan ‎pengumuman ini. ‎
‎7)‎ Halaman Sekolah
Salah satu area yang dapat digunakan sebagai media untuk ‎menciptakan bi’ah lughawiyah adalah halaman sekolah, karena beberapa ‎kegiatan siswa dilakukan di halaman sekolah, seperti upaca bendera tiap hari ‎senin atau tanggal 17 Agustus, baris-berbaris, kepramukaan, olah raga ringan ‎dan sebagainya. Kita dapat “menunggangi” kegiatan-kegiatan ini untuk ‎menciptakan suasana Arab. Misalnya, ketika memberi aba-aba baris berbaris, ‎atau upacara dengan menggunakan bahasa Arab.‎
Di samping dengan memanfaatkan kegiatan-kegiatan tersebut kita juga ‎dapat merancang halaman sekolah kita bernuansa Arab. Misalnya, dengan ‎memberi label semua jenis tanaman dengan bahasa Arab, membuat slogan-‎slogan dalam bahasa Arab, menempel gambar-gambar atau ornamen-ornamen ‎yang bernuansa Arab, membuat papan-papan pemberitahuan seperti “tamu ‎harap lapor”, “dilarang parkir disini”, “daerah bebas rokok”, “visi misi ‎sekolah” dan lain sebagainya dibuat dalam bahasa Arab.‎
‎8)‎ Ruang Workshop
Bila di sekolah tersedia ruang workshop untuk praktik keterampilan ‎siswa, maka ia juga dapat dimanfaatkan sebagai media dalam menciptakan ‎bi’ah lughawiyah. Hal demikian bisa dilakukan dengan memperkenalkan ‎peralatan, mesin-mesin, proses kerja dan lain sebagainya yang ada dalam ‎ruang workshop dengan bahasa Arab. Urgensi hal ini akan semakin tampak ‎apabila sekolah tersebut memiliki orientasi kerja. Karena salah satu kelemahan ‎tenaga kerja Indonesia adalah lemahnya kemampuan berkomunikasi dalam ‎bidang keahlian kerjanya. Akan tetapi ini, tentu saja, menuntut keterampilan ‎guru bahasa Arab pada lembaga tersebut.‎
‎9)‎ Ruang Klinik/UKS
Ruang klinik sekolah juga dapat dimanfaatkan sebagai media untuk ‎menciptakan suasana bi’ah lughawiyah. Ia merupakan miniature suasana ‎rumah sakit. Sehingga guru bahasa Arab dapat merancang ruang tersebut ‎untuk membawa siswa ke suasana rumah sakit Arab. Guru bahasa Arab dapat ‎menginfentarisir ungkapan-ungkapan dan mufradat yang berhubungan dengan ‎penyakit, pengobatan, resep, obat-obatan dan lain sebagainya dan ‎mengajarkannya kepada petugas UKS dan para siswa. ‎
‎10)‎ ‎ Ruang pertemuan/auditorium
Ruang pertemuan atau auditorium juga merupakan tempat yang dapat ‎dimaipulasi sebagai media untuk meciptakan bi’ah lughawiyah. Auditorium ‎biasanya memuat banyak orang, tersedia pengeras suara, terdapat panggung ‎atau podium dan lain-lain. Ruangan ini dapat dimanfaatkan untuk kegiatan ‎pekan Arab atau istilah Efendi “yaum araby”.‎ ‎ Pada pekan ini dapat ‎dirancang kegiatan-kegiatan yang berbau Arab, misalnya lomba pidato bahasa ‎Arab, baca puisi Arab, diskusi dengan bahasa Arab, cerdas cermat bahasa ‎Arab, pementasan drama berbahasa Arab, atau memutar film berbahasa Arab ‎dan mengapresiasinya.‎
H.‎ Kesimpulan dan Penutup ‎
Dari uraian diatas dapat penulis simpulkan beberapa hal berikut:‎
‎1.‎ Lingkungan sekolah telah menyediakan untuk kita miniatur dari suasana ‎Arab (Arabic Zone), tinggal bagaimana kita menyiasatinya.‎
‎2.‎ Benda apa saja dapat kita gunakan sebagai media untuk menciptakan bi’ah ‎lughawiyah yang kita inginkan.‎
‎3.‎ Diperlukan adanya kerjasama dan komitmen dari semua pihak untuk ‎menciptakan bi’ah lughawiyah yang baik.‎
Demikian makalah ini penulis susun, dimana sebagian adalah ‎merupakan teori yang terdapat pada buku-buku, terutama uraian yang ada ‎pada latar belakang, dan sebagian lagi adalah hasil ijtihad penulis yang ‎didasarkan pada pengalaman penulis selama mengajar. Oleh karena itu apabila ‎di sana sini terdapat kekurangan dan kesalahan maka kritik dan saran sangat ‎penulis harapkan. Makalah ini kiranya dapat dijadikan sebagai pengantar ‎untuk merumuskan pola-pola pemanfaatan media dalam menciptakan bi’ah ‎lughawiyah dengan lebih baik. Semoga. ‎

Daftar Pustaka
Chaer, Abdul, dan Leonie Agustina, Sosio Linguistik Perkenalan Awal, (Jakarta: ‎Rineka Cipta), 2004‎
Chaer, Abdul, Psikolinguistik Kajian Teoritik, (Jakarta: Rineka Cipta), 2003‎
Douglas, Brown H., The Principles of Language Teaching, Terj. oleh 'Abduh al-‎Rajihi dan 'Ali Ahmad Sya'ban, Usus Ta'allum al-Lughah wa Ta'lîmuha, ‎‎(Beirut: Dar al-Nahdlah al-'Arabiyyah), 1994‎
Efendi, Ahmad Fuad, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, (Malang: Misykat), ‎‎2005‎
Effendy,Ahmad Fuad, "Pendekatan Komunikatif untuk Menciptakan Lingkungan ‎Bahasa Arab (Bî'ah 'Arabiyyah) di Madrasah", Makalah disampaikan dalam ‎Pelatihan Bahasa Arab Bagi Guru Bahasa Arab di Madrasah, Jakarta, ‎Oktober 2004.‎
al-Fattâh, Nâzik Ibrâhim 'Abd, Musykilât al-Lughah wa al-Takhâthub fi Dlau' 'Ilm ‎al-Lughah al-Nafsî, (Kairo: Dâr Quba'), 2002‎
al-Hajjâj, Abu al-Husain Muslim ibn, Mukhtashar Shahih al-Muslim, Tahqiq ‎Muhammad Nâshir al-Dîn al-Bâni, (Beirut: al-Maktab al-Islâmi), 2000, Cet. ‎I, hadits No. 1803.‎
Krashen, S.D., Formal and Informal Linguistc Environments in Language ‎Acquisition and Language Learning, TESOL Quartely (10) June, 1976.‎
al Khuly, Muhammad Ali, Asalib Tadrisi al Lughah al ‘Arabiyah, (Riyadh: ), 1989‎
al-Khalifah, Hasan Ja'far, Fushû lfi Tadrîs al-Lughah al-'Arabiyyah, (Riyadh: ‎Maktabah al-Rusyd), 2003, Cet. II,‎
Manshûr, Abdul Majîd Sayyid Ahmad, Ilm al-Lughah al Nafsi, (Riyadh: Imâdat ‎al-Syu’ûn al Maktabah Jâmi’at al-Malik Saud), 1982‎
Miarso, Yusufhadi, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, (Jakarta: Prenada), ‎‎2005‎
Nurhadi, dkk., Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK, ‎‎(Malang : Universitas Negeri Malang), 2004‎
Sadiman, Arif S. et.al, Media Pendidikan Pengertian Pengembangan dan ‎pemanfaatannya, (Jakarta: Rajawali Press), 1986‎
al-Samirra'i, Ahmad ibn 'Abd al-Rahmân, Ajhijah al-'Ardh al-Hâithiyyah, dalam ‎http://www. Tarbawi.com. ‎
Wâfi, Abdul Wâhid, Al Lughah wa Al Mujtama’, (Kairo: Dar al-Nahdhat Mishr) ‎‎1971‎

Senin, 14 Juli 2008

MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA ARAB


أهمية الوسائل التعليمية وآثارها في تعليم اللغة العربية

‌أ. التمهيد
الوسائل التعليمية أصبحت ركنا أساسيا من أركان العملية التربوية لذا أصبح من المستحيل الاستغناء عنها في المواقف التدريسية حتى يتمكن الطالب من الاستيعاب والتحصيل بأقل جهد ممكن.
لـم يعد اعتماد أي نظام تعليمي على الوسائل التعليمية درباً من الترف، بل أصبح ضرورة من الضرورات لضمان نجاح تلك النظم وجزءاً لا يتجزأ في بنية منظومتها.
ومع أن بداية الاعتماد على الوسائل التعليمية في عمليتي التعليم والتعلم لها جذور تاريخية قديمة، فإنها ما لبثت أن تطورت تطوراً متلاحقاً كبيراً في الأونة الاخيرة مع ظهور النظم التعليمية الحديثة .
وقد مرت الوسائل التعليمية بمرحلة طويلة تطورت خلالها من مرحلة إلى أخرى حتى وصلت إلى أرقى مراحلها التي نشهدها اليوم في ظل ارتباطها بنظرية الاتصال الحديثة Communication Theory واعتمادها على مدخل النظم Systems Approach .

‌ب. تعريف الوسائل
اختلف علماء التربية في إلقاء التعريفات عن الوسائل التعليمية، منها:
1. وسائل التعليم هي كل ما يستعمله المدرس من الوسائل ليستعين به على تفهيم تلاميذه قد يصعب عليهم فهمه من المعلومات الجديدة،[1]
2. وإنّ الوسائل التعليمية ما تساعد على تقريب التلاميذ إلى حقيقة المواد الدراسية،[2]
3. وإن الوسائل التعليمية هي ما تندرج تحت مختلف الوسائط التي استخدمها المعلم قي الموقف التعليمي بغرض إيصال المعارف والحقائق والأفكار والمعاني للدارسين،[3]
4. والوسائل التعليمية هي الآلات المستخدمة لإعانة إيضح المادة التي ألقاها المدرس حتى يقدر التلاميذ على أن يحسو جيدازتجعلها بقية الأثار،[4]
5. والوسائل التعليمية هي الآلات المستخدمة التربوية والتعليمية من الأعمال أوالمواد التي تسهل التلاميذ الفهم تدرجا،[5]
6. وإن المراد بالوسائل التعليمية هي الآلات التي يستعين بها المعلم على تفهيم التلاميذ من الوسائل التوضيحية المختلفة، [6]
7. والوسائل التعليمية هي كل ما يستخدمه المعلم في العملية التعليمية،[7]
8. والوسائل التعليمية هي ما يلجأ إليه المدرس من أدوات وأجهزة ومواد لتسهيل عملية التعلم والتعليم وتحسينها وتعزيزها، وهي تعليمية لأن المعلم بستخدمها في عمله وهي تعلمية لأن التلاميذ يتعلم بواسطتها.[8]

انطلاقا ونظرا إلى التعريفات السابقة في الوسائل التعليمية التي قد ألقاها العلماء التربوية كما ذكرناها نتلخص منها: " أن الوسائل التعليمية هي كل ما يستخدمه الدرس من الآلات التعليمية لإيضاح المواد الدراسية التي يريد أن يلقيها إلى التلاميذ حتى تكون واضحة جلية ال تبعث فيهم الملل والسامة".
وقد تدرج المربون في تسمية الوسائل التعليمية فكان لها أسماء متعددة منها: وسائل الإيضاح، الوسائل البصرية، الوسائل المعينة، الوسائل التعليمية، الأجهزة التعليمية،[9] وأحدث تسمية لها تكنولوجيا التعليم التي تعني علم تطبيق المعرفة في الأغراض العلميةبطريقة منظمة.

‌ج. الأسس في اختيار الوسائل التعليمية
إن اختيار الأجهزة أوالوسائل ليست عملية بسيطة، وحتى لو سلمنا بتوافر الميزانية المافية لشرائها، فإن هناك أنواعا ونماذج عديدة للإختيار من بينها بعضها جيد وبعضها رديء.[10] وقبل أن يختار المدرس الوسائل التعليمية يجب عليه أن يفكر أولا من أن درسه في حاجة فعالية إلى الوسيلة، لأن استخدام الوسيلة بفير ضرورة يعتبر مستغرقا للوقت والجهد وبالتالى لا يخدم غرض التعليم. ومن أهم الأسس التي تنبغي مراعتها عند اختيار الوسائل التعليمية ما يلي:
1. أن يختار نوع الوسيلة الذي يناسب خصائص واحتياجات الموقف التعليمي،
2. أن يعطي الوسيلة صورة صادقة ومفسرة للأفكار والحقائق والمعلومات التي يراد تقديمها للتلاميذ،
3. مناسبة الوسيلة للتلاميذ التي تفيد لهم في نوحى السن والمستوى التعليمي والخبرات السابقة،
4. أن تكون في حالة طبيعية سليمة،
5. أن تستحق ما يبذل في سبيل تدبيرها واسخدامها من وقت وجهد ومال،
6. أن تكون الوسيلة في متناول البد لخدمة الموضوع الذي اختارت من أجله.[11]

وقال عبد الخالق بن حنس الدرمحي في مقالته بأن أسس اختيارالوسائل التعليمية في تدريس اللغة العربية، وهي:
1. أن تتناسب مع قدرات واستعدادات الطلاب، وحاجاتهم وميولهم، فلا تكون فوق مستوياتهم فتشتيت أذهانهم، ولا تقل عن مستوياتهم فتقلل حماسهم، وتدخل السأم والملل إلى نفوسهم .
2. أن تسهم في تحقيق أهداف الدرس، أو على الأقل في تحقيق بعض منها.
3. أن تكون مثيرة لاهتمام الطلاب، بحيث تجمع عناصر الطرافة والتشويق.
4. أن تكون بسيطة وواضحة، أي خالية من التعقيد.
5. أن تكون صحيحة في محتواها.
6. أن يشترك الطالب –قدر الإمكان – في إعدادها.[12]

‌د. الأغراض في استخدام الوسائل التعليمية
إن استخدام الوسائل التعليمية لها أغراض كثيرة منها:
1. أنها تساعد على عملية التدريس الفعال وعلى انتشار جميع الحواس،
2. أنها بساعد التلاميذ على معرفة العمليات التدريسية وعلى امتساب الخبرات الجديدة،
3. أنها تبعد التلاميذ عن التردد اللفظي ( verbalisme ) في العمليات التربويةحتى لا يسأم التلاميذ الدرس.[13]

‌ه. فوائد الوسائل التعليمية
إن فوائد الوسائل التعليمية تختلف من مواقف التدريس باختلاف المدرسين الذين يستخدمون الوسيلة من أجلهم، والوسائل ذات أهمية كبيرة في تدريس المواد المختلفة ومن بينها اللغة العربية. ومن فوائد الوسائل التعليمية وهي كما يلي:
1. توفر الأ ساس المادى المحسوس في تفكير الا دراكي ومن ثم تقلل من استجابات الطلاب اللفظية الين لايعبمون معناها،
2. تثير إلى الدرجة الكبيرة في اهتمام الطلاب،
3. توفر الخبرات الواقعية وتقير النشاط الذاتي للطلاب،
4. تساعد على التفكير المنسوق المستمر،
5. تجعل خبرات التلاميذ بقية الآثار،
6. الزيادة في نمو المعنى، ومن ثم تزيد ثروة،
7. توفر خبرات متنوعة يصعب الحصول عليها عن طريق أدوات ووسائل أخرى كما تعمل على زيادة التعليم وفاعليته.[14]

وقد أصبح البحوث التي قام بها تشارلس هبان ( Charles Huban ) وجمس فين ( James Fian ) وإدجار ديل ( Edgar Dale ) أن الوسلئل إذا استخدمت استخداما صحيحا ودقيقا قإنها تنتج النتائج التالية:
1. تزويد التلاميذ بأساس محسوس للتفكير وتجعل استجاباته اللفظية للمواقف ذات معنى ومعزى،
2. تزويد التلاميذ بالخبرة الواقعية وتثير النشاط الذاتي،
3. تزويد التلاميذ باستمرار التفكير،
4. مساعدة التلاميذ على نمو المواقف ذات المعنى لدى التلاميذ على زيادة الحصيلة اللغوية،
5. تبعد ما يتعلمه التلاميذ عن النسيان،
6. تبعث قي التلاميذ الإبهام الكبير بالمادة التي بدرسونها.[15]

وبجانب تلك الفوائد السابقة هناك فوائد أخرى كما يلي:
1. أنها تثير اهتماما بتعلم وبطلب المعرفة،
2. تجعل ما تعلمه يدوم لفترة طويلة،
3. تقدم له الخبرات الواقعية تدعوه إلى التشاط الذاتي،
4. تنمي عنده استمرار التفكيرفي الموضوع.[16]

‌و. الوسائل المستخدمة في تعليم اللغة العربية
الوسائل المستعملة في تدريس اللغة العربية:
1. الوسائل البصرية: وهي التي يستفاد منها عن طريق نافذة العين، وأهمها:
‌أ. الكتاب المدرسي وفير المدرسي، المجلات والدوربات، والنشرات على اختلافها.
‌ب. السبورة وملحقاتها.
‌ج. اللوحات الجدارية (اللوحة الممغنظة، اللوحة الوبرية، اللوحة الإخبارية، لةحة الجيوب).
‌د. الصور(المفردة والمركبة والمسلسلة).
‌ه. البطاقات (بطاقات الحروف والمقاطع والكلمات والجمل، بطاقة مطابقات، بطاقات التعليمات، بطاقات الأسئلة والأجوبة.

2. الوسائل السمعية: وهي التي يستفاد منها عن طريق الأذن، وأهمها: المذياع، التسجيلات الصوتية، الأسطوانات .... الخ
3. الوسائل السمعية البصرية: وهي التي يستفاد منها عن طريق العين والأذن معا، وأهمها: التلفاز، الصور المتحركة، الدروس النموذجية المسجلة، التمثيليات المتلفزة ... الخ.[17]

وهذا ما يمكن توظيفه من الوسائل في تدريس اللغة العربية :
السبورة (أم الوسائل)
وينبغي عند استخدامها مراعاة ما يلي :
‌أ. نظافة السبورة قبل بدء الحصة، لئلا يضيع جزء من الحصة في محو ما كتب عليها، أو في البحث عن الممحاة .
‌ب. إحضار الطباشير "الملونة" قبل بدء الحصة، حتى لا يضطر إلى الخروج من الفصل أو إخراج أحد الطلاب .
‌ج. التقسيم والترتيب، لمساعدة الطالب على التركيز وعدم تشتت الذهن.
‌د. أن تتسم الكتابة على السبورة بما يلي: - الوضوح من حيث حجم الحروف. – صحة ما يكتب نحوياً وإملائياً. – استقامة السطور . - استخدام الطباشير الملونة في إظهار وتوضيح الظواهر اللغوية أو النحوية أو الإملائية .

الكتاب المدرسي (المقرر)
ويراعى فيه ما يلي :
‌أ. القراءة المتأنية والواعية من قبل المعلم في الإعداد الذهني، لاستيعاب المحتوى والتزود من المصادر، وتدارك ما قد يشتمل عليه من صعوبات قد تعرضه للارتباك أمام طلابه، وتبدد ثقته بنفسه.
‌ب. حصر الأخطاء والملاحظات الجديرة بالاهتمام .
‌ج. لا ينبغي الاقتصار على الكتاب المقرر، كما أنه لا ينبغي إهماله، وإنما يلجأ المعلم مع طلابه عند الحاجة إليه، كالتدرب على مهارات القراءة الصامتة أو الجاهرة، أو قراءة التدريبات والإجابة عليها .
‌د. إغلاق الطلاب لكتبهم عند عدم الحاجة إليها، حتى نضمن تركيز الطلاب ومشاركتهم الإيجابية أثناء الدرس.
‌ه. تعويد الطلاب المحافظة على كتبهم وعدم العبث بها، ولا سيما ما يشتمل منها على آياتٍ قرآنية كريمة أو أحاديث نبوية شريفة .

جهاز عرض فوق الرأس(الأوفرهيد):
ويتم ذلك عن طريق (الشفافيات) أو الورق البلاستيكية التي تشتمل على صور توضيحية، أو تكتب عليها المادة بالقلم (الفلوماستر) لتعرض على الجدار بواسطة مرور الضوء من خلالها. ومن ميزاته:
‌أ. أنه توفر للمعلم الكثير من الوقت والجهد.
‌ب. يمكن استخدامه دون الحاجة إلى تعتيم كامل للغرفة.
‌ج. يمكن المعلم من مواجهة طلابه عند الكتابة، وهذا يجعله أكثر ملاحظة لهم.
‌د. يسهّل عملية الكتابة على المدرس، وبعده عن الطباشير المضرة بالصحة.
‌ه. يمكن المعلم من كتابة النصوص والأمثلة أو الجداول التوضيحية مسبقاً، وبالتالي تكون العملية التعليمية أكثر إتقاناً. كما أن في ذلك حفاظاً على وقت الحصة الذي قد يضيع سدى أثناء قيام المعلم بكتابة ذلك على السبورة.


الصور والرسوم:
وأكثر ما تكون مجدية في المرحلة الابتدائية، كأن يعرض المعلم على طلابه مجموعة من الصور المفردة أو المركبة، أو يفحص معهم الصور التي يشتمل عليها الكتاب المقرر، فيطرح حولها عدداً من الأسئلة، أو يطلب من بعضهم التعبير عنها بعدة جمل اسمية أو فعلية أو جمل تكميلية .... وهكذا
بطاقات الألغاز :
حيث تحتوي كل بطاقة على معلومات عن إنسان أو حيوان أو نبات أو مخترع....، وتنتهي البطاقة بسؤال: من هو؟ من أنا؟ وما شابه ذلك .... توزع على الطلاب، ويقرأ كل طالب بطاقته أمام زملائه، ثم يختار المجيب .... وهكذا.
الأجهزة الصوتية:
كالمسجلات، حيث تسجل قراءات الطلاب النموذجية التي يتوافر فيها سلامة النطق، ووضوح الصوت، وسلامة الأداء اللغوي وتمثيل المعاني، ثم تعرض هذه القراءات على مسامع الطلاب للاستفادة منها من خلال المحاكاة والتقليد ... ويمكن الاستفادة في هذا الجانب من خلال مسابقات الإلقاء والتعبير للنصوص الشعرية أوالنثرية
الخرائط الجغرافية:
ما يتعلق منها بموضوعات الدروس، كأن يكون الموضوع عن الوطن، أو دول مجلس التعاون، أو الأمة العربية أو العالم الإسلامي.
الرسوم والجداول البيانية:
التي يمكن استخدامها في بيان الاتجاهات الأدبية، ومن ينتمي إليها من الشعراء، وخصائص كل اتجاه ...، وخصائص العصور الأدبية، أو توضيح بعض القواعد النحوية أو الإملائية ....وغير ذلك.
التمثيليات المسرحية:
وتؤدى داخل الفصل أو على مستوى المدرسة، ومن فوائدها، أنها تعمل على تخليص الطالب من الخوف والخجل والارتباك، وتعوده على مواجهة الناس، بالإضافة إلى أنها تزوده بأنماط سلوكية مرغوب فيها، كما أنها تزيد من ثروته اللغوية، وتنمي لديه المهارات المختلفة كسلامة الأداء وتمثيل المعاني.
ومن السهل على كثير من المعلمين وضع مسرحيات منهجية مختصرة أو فصول مبسطة لإبراز بعض ما يشتمل عليه المنهج من نواح اجتماعية أو أدبية أو تاريخية ... . [18]

‌ز. أهمّية الوسائل التعليمية وآثارها في تعليم اللغة العربية
1. أهمّية الوسائل التعليمية
قال إبرهيم العبيد،في مقالته في الوسائل التعليمية - تقنيات التعليم :يمكن للوسائل التعليمية أن تلعب دوراً هاماً في النظام التعليمي وتحسين عملية التعليم والتعلم في تعليم اللغة العربية. ورغم أن هذا الدور أكثر وضوحاً في المجتمعات التي نشأ فيها هذا العلم، كما يدل على ذلك النمو المفاهيمي للمجال من جهة، والمساهمات العديدة لتقنية التعليم في برامج التعليم والتدريب كما تشير إلى ذك أديبات المجال، إلا أن هذا الدور في مجتمعاتنا العربية عموماً لا يتعدى الاستخدام التقليدي لبعض الوسائل - إن وجدت - دون التأثير المباشر في عملية التعلم وافتقاد هذا الاستخدام للأسلوب النظامي الذي يؤكد علية المفهوم المعاصر لتقنية التعليم.
ويمكن أن نلخص الدور الذي تلعبه الوسائل التعليمية في تحسين عملية التعليم والتعلم بمايلي:
أولاً: إثراءالتعليم
أوضحت الدراسات والأبحاث (منذ حركة التعليم السمعي البصري) ومروراً بالعقود التالية أن الوسائل التعليمية تلعب دوراً جوهرياً في إثراء التعليم من خلال إضافة أبعاد ومؤثرات خاصة وبرامج متميزة. إن هذا الدور للوسائل التعليمية يعيد التأكيد على نتائج الأبحاث حول أهمية الوسائل التعليمية في توسيع خبرات المتعلم وتيسير بناء المفاهيم وتخطي الحدود الجغرافية والطبيعية ولا ريب أن هذا الدور تضاعف حالياً بسبب التطورات التقنية المتلاحقة التي جعلت من البيئة المحيطة بالمدرسة تشكل تحدياً لأساليب التعليم والتعلم المدرسية لما تزخر به هذه البيئة من وسائل اتصال متنوعة تعرض الرسائل بأساليب مثيرة ومشرقة وجذابة .



ثانياً: اقتصادية التعليم:
ويقصد بذلك جعل عملية التعليم اقتصادية بدرجة أكبر من خلال زيارة نسبة التعلم إلى تكلفته. فالهدف الرئيس للوسائل التعليمية تحقيق أهداف تعلم قابلة للقياس بمستوى فعال من حيث التكلفة في الوقت والجهد والمصادر.
ثالثاً: تساعد الوسائل التعليمية على استثارة اهتمام التلميذ وإشباع حاجته للتعلم
يأخذ التلميذ من خلال استخدام الوسائل التعليمية المختلفة بعض الخبرات التي تثير اهتمامه وتحقيق أهدافه وكلما كانت الخبرات التعليمية التي يمر بها المتعلم أقرب إلى الواقعية أصبح لها معنى ملموساً وثيق الصلة بالاهداف التي يسعى التلميذ إلى تحقيقها والرغبات التي يتوق إلى إشباعها.

رابعاً: تساعد على زيادة خبرة التلميذ مما يجعله أكثر استعداداً للتعلم
هذا الاستعداد الذي اذا وصل اليه التلميذ يكون تعلمه في أفضل صورة. ومثال على ذلك مشاهدة فيلم سينمائي حول بعض الموضوعات الدراسية تهيؤ الخبرات اللازمة للتلميذ وتجعله أكثر استعداداً للتعلم.

خامساً: تساعد الوسائل التعليمية على اشتراك جميع حواس المتعلم إنّ اشتراك جميع الحواس في عمليات التعليم يؤدي إلى ترسيخ وتعميق هذا التعلّم والوسائل التعليمية تساعد على اشتراك جميع حواس المتعلّم، وهي بذلك تساعد على إيجاد علاقات راسخة وطيدة بين ما تعلمه التلميذ ، ويترتب على ذلك بقاء أثر التعلم.

سادساً: تساعد الوسائل التعليمية على تحاشي الوقوع في اللفظية والمقصود باللفظية استعمال المدّرس ألفاظا ليست لها عند التلميذ الدلالة التي لها عند المدّرس ولا يحاول توضيح هذه الألفاظ المجردة بوسائل مادية محسوسة تساعد على تكوين صور مرئية لها في ذهن التلميذ، ولكن إذا تنوعت هذه الوسائل فإن اللفظ يكتسب أبعاداً من المعنى تقترب به من الحقيقة الأمر الذي يساعد على زيادة التقارب والتطابق بين معاني الألفاظ في ذهن كل من المدّرس والتلميذ.

سابعاً: يؤدي تـنويع الوسائل التعليمية إلى تكوين مفاهيم سليمة.

ثامناً: تساعد في زيادة مشاركة التلميذ الايجابية في اكتساب الخبرة. تنمي الوسائل التعليمية قدرة التلميذ على التأمل ودقة الملاحظة وإتباع التفكير العلمي للوصول إلى حل المشكلات. وهذا الأسلوب يؤدي بالضرورة إلى تحسين نوعية التعلم ورفع الأداء عند التلاميذ .

تاسعاً: تساعد في تنويع أساليب التعزيز التي تؤدي إلى تثبيت الاستجابات الصحيحة (نظرية سكنر) .

عاشراً: تساعد على تنويع أساليب التعليم لمواجهة الفروق الفردية بين المتعلمين.

الحادي عشر: تؤدي إلى ترتيب واستمرار الأفكار التي يكونها التلميذ.
الثاني عشر: تؤدي إلى تعديل السلوك وتكوين الاتجاهات الجديدة.[19]

2. آثارالوسائل التعليمية في تعليم اللغة العربية
وأما آثارالوسائل التعليمية في تعليم اللغة العربية فهي كما تلي:
‌أ. تنمي حب الاستطلاع عند المتعلمين وتخلق في نفوسهم الرغبة في التحصيل والمثابرة.
‌ب. تتيح للمتعلمين الفرص الجيدة للاستفادة من خبراتهم وتدفعهم للقيام بتجارب ذات علاقة بواقع حياتهم أثناء التعلم.
‌ج. تقوي العلاقات بين المعلم والمتعلم، وتزيد في إيجابية المتعلم.
‌د. تسهل للمتعلمين التفاعل مع البيئة فيعرفون المعاني الصحيحة للعبارات المجردة.
‌ه. استعمال الوسائل يبقي خبرات المتعلم حية ذات صورة واضحة في ذهنه
‌و. يدفع المتعلم إلى التعلم بالعمل (الممارسة).
‌ز. توفر الوقت والنفقات الباهضة خاصة إذا كانت تكاليف الوسيلة بسيطة.
‌ح. تساعد في معالجة مشاكل النطق عند المتعلمين.
‌ط. تساعد على ربط الأجزاء ببعضها والأجزاء بالكل.
‌ي. تحرر المتعلم من دوره التقليدي فتجعله مشارك بعد أن كان مستمعا،
‌ك. وتقوي روح الاعتماد على الذات.

ومن عيوب تعليم اللغة العربية للأجانب والتي أدت إلى فشلها في تعليم مهارى اللغة الأربع، الاستماع والحديث والقراءة والكتابة، عدم استخدام الوسائل التعليمية في تعليم اللغات.
ومن نتائج الدراسات العلمية في هذا الجانب أناستخدام الوسائل التعليمية في تعليم اللغات الأجنبية يؤدي إلى نمو الثروة اللغوية عند التلاميذ، كما أنه يؤدي إلى مساعدة التلاميذ مساعدة فعالة في تعلم المهارات الأساسية في اللغة.[20]
‌ح. الإختتام
قد انتهت هذه المقالة، والمرجو ممن اطلع فيه وخصوصا من الأستاذ على هفوة صغيرة أو كبيرة أن يصححها، لأن الكاتب أيقن أن في هذه المقالة عيوبا ونقصانا، لأجل ذلك يرجو الكاتب إلى النقد والإقتراح ليكون صلاحيا.
المراجع العربية

إبراهيم ناهر، مقدمة في التربية، مدخل إلى التربية، عما: جمية عمال المطابع، 1983
إبرهيم العبيد، مقالة قي الوسائل التعليمية-تقنيات العليم، ،www
أحمد خيري محمد كاظم وعبدالحميد حابر، الةسائا التعليمية والمنهج، دار النهضة العربية، 1982، ط 3، ص 27
إسمعيل صبري مسلم، محاضرات الوسائل التعبيمية، معهد الحرطوم،1983 ظ 1984
حسين سليمان قورة، دراسات تحليلية ومواقف تطبيقا، القاهرة، دارالمعارف، 1997
د. بدر بن عبد الله الصالح و د. عبدالله بن سالم ، الإطار المرجعي الشامل لمركز مصادرالتعلم، مكتبة التربية العربي لدول الخليع، الرياض، 1423 هـ\2003 م
الدكتور نايف محمود معروف، خصائص العربية وطرائق تدريسها، دار النفائس، بيروت-لبنان، 1998\1418
الدكتور نايف محمود معروف، خصائص العربية وطرائق تدريسها، دار النفائس، بيروت-لبنان، 1998\1418
دوكتور عبد الجيد سيد أحمد منصور، سيكولوجية الوسائل التعبيمية ووسائل اللعة العربية، جمعة رياض، دارالمعارف
عبد الخلق بن حنس الدرمحي- مشرف اللغة الغربية لمركز القرى بالاطاولة، موضوع الدراسة : الوسائل التعليمية في تدريس اللعة الربية، ،www
عبد العليم إبرهيم، الموجه الفني لمدرس اللعة العربية، مصر، دار المعارف
محمد يونس ومحمد قاسم بكري، التربية والتعليم، جاكرتا دار المعارف، مكتبة الهداية
د. هداية، مختصر طرق تدريس اللعة العربية للطلاب في المدارس والمعاهد الاندونسية، جكرتا، جامعة شريف هداية الله الاسلامية الحكومية
دكتور فتحي على يونس، المرجع في تعليم اللغة العربية للأجانب، مكتبة وهبة، القاهرة، 1423هـ/2003

المراجع الإ ندونسية

A Shertian, Piet dan Frans Mataheru, Prinsip dan Tehnik Supervisi Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1982
Arikunto, Suharsimi, Pengelolaan Materil, Jakarta, Prima Karya
Azhar Arsyad, Prof. Dr. Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya Beberapa Pokok Pikiran, Pustaka Pelajar, 2004
Satro Projo, M., Kamus Istilah Pendidikan dan Umum, Surabaya, Usaha Nasional, 1981
Zahara Idris H. dan H. Lisma Jamal, Pengantar Pendidikan, Jakarta, PT. Gramedia Widiarsana Indonesia, 1995

[1] محمد يونس ومحمد قاسم بكري، التربية والتعليم، جاكرتا دار المعارف، مكتبة الهدلية، ص: 77
[2] د. هداية، مختصر طرق تدريس اللعة العربية للطلاب في المدارس والمعاهد الاندونسية، جكرتا، جامعة شريف هداية الله الاسلامية الحكومية، ص:5
[3] دوكتور عبد الجيد سيد أحمد منصور، سيكولوجية الوسائل التعبيمية ووسائل اللعة العربية، جمعة رياض، دارالمعارف، ط 1 ص 37
[4] M. Satro Projo Kamus Istilah Pendidikan dan Umum, Surabaya: Usaha Nasional, 1981, hal. 13
[5] Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Materil, Jakarta: Prima Karya, Cet.I, hal. 13
[6] عبد العليم إبرهيم، الموجه الفني لمدرس اللعة العربية، مصر، دار المعارف، ط 1 ص 433
[7] Zahara Idris H. dan H. Lisma Jamal, Pengantar Pendidikan, Jakarta, PT. Gramedia Widiarsana Indonesia, 1995, Cet. II, jilid I, hal. 39
[8] الدكتور نايف محمود معروف، خصائص العربية وطرائق تدريسها، دار النفائس، بيروت-لبنان، 1998\1418، ط 5 ص 243
[9] Prof. Dr.Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya Beberapa Pokok Pikiran, Pustaka Pelajar, Cet.II, 2004, hal.75
[10] د. بدر بن عبد الله الصالح و د. عبدالله بن سالم ، الإطار المرجعي الشامل لمركز مصادرالتعلم، مكتبة التربية العربي لدول الخليع، الرياض، 1423 هـ/2003 م، ص 114
[11] إسمعيل صبري مسلم، محاضرات الوسائل التعبيمية، معهد الحرطوم،1983 ظ 1984، ص 5-6
[12] عبد الخلق بن حنس الدرمحي- مشرف اللغة الغربية لمركز القرى بالاطاولة، موضوع الدراسة : الوسائل التعليمية في تدريس اللعة الربية، ،www ص 1-2
[13] Piet A Shertian dan Frans Mataheru، Prinsip dan Tehnik Supervisi Pendidikan، Usaha Nasional، Surabaya، 1982، Cet. I، hal. 20.
[14] أحمد خيري محمد كاظم وعبدالحميد حابر، الةسائا التعليمية والمنهج، دار النهضة العربية، 1982، ط 3، ص 27
[15] حسين سليمان قورة، دراسات تحليلية ومواقف تطبيقا، القاهرة، دارالمعارف، 1997، ط 3، ص 295
[16] إبراهيم ناهر، مقدمة في التربية، مدخل إلى التربية، عما: جمية عمال المطابع، 1983، ط 5، ص 178
[17] الدكتور نايف محمود معروف، خصائص العربية وطرائق تدريسها، دار النفائس، بيروت-لبنان، 1998\1418، ط 5 ص 245-247
[18] عبد الخالق بن حنس الدرمحي، الوسائل التعليمية في تدريس اللعة العربية، www، ص 2-3
[19] إبرهيم العبيد، مقالة قي الوسائل التعليمية-تقنيات العليم، ،www ص 1-3
[20] دكتور فتحي على يونس، المرجع في تعليم اللغة العربية للأجانب، مكتبة وهبة، القاهرة، 1423هـ/2003 م، ط 1، ص 83